Total Tayangan Laman

Jumat, 03 Desember 2010

anak berbakat

Permasalahan yang dialami anak berbakat
Keberbakatan menimbulkan permasalahan bagi penyandangnya apabila mereka tidak memperoleh dukungan dan bantuan yang diperlukannya. Permasalahan itu terutama timbul pada masa remaja. Buescher dan Higham (1990) mengemukakan bahwa anak-anak berbakat antara usia 11 dan 15 tahun sering menghadapi berbagai masalah sebagai akibat dari keberbakatannya yang meliputi: perfeksionisme, competitiveness, penilaian yang tidak realistis terhadap keberbakatannya, penolakan dari teman sebaya, kebingungan akibat "pesan-pesan" yang beraneka ragam sehubungan dengan bakatnya, dan tekanan dari orang tua serta masyarakat agar berprestasi, di samping permasalahan yang ditimbulkan oleh terlalu tingginya ekspektasi terhadap diri mereka. Beberapa anak berbakat mengalami kesulitan dalam mendapatkan dan memilih teman, memilih jurusan di sekolah atau perguruan tinggi, dan akhirnya juga mengalami kesulitan dalam memilih karir. Masalah-masalah perkembangan yang dialami oleh semua remaja juga dialami oleh remaja berbakat tetapi masalahnya dibuat lebih kompleks oleh kebutuhan khusus dan karakteristik anak berbakat. Kemudian kesulitan utama remaja berbakat Salah satu nya juga disebabkan karena lingkungan belajar yang kurang menantang kepada mereka untuk
mewujudkan kemampuannya secara optimal.

Permasalahan tersebut sering di prdebatkan karna Di sisi lain memang masih adanya suara-suara sumbang yang menyangsikan keberhasilan pendidikan khusus bagi siswa cerdas dan berbakat. Kubu ini berpendapat bahwa penyelenggaraan pendidikan khusus bagi siswa cerdas dan berbakat lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya dan tidak mencerminkan alam demokratis, membentuk kelompok elit dan merupakan pemborosan.
Utami Munandar (1995) memberikan delapan alasan perlunya pelayanan pendidikan khusus bagi siswa cerdas dan berbakat, yaitu :
1. Keberbakatan tumbuh dari proses interaktif antara lingkungan yang merangsang dan kemampuan pembawaan dan prosesnya. Dengan kata lain, anak berbakat memerlukan program yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2. Pendidikan atau sekolah hendaknya dapat memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada anak untuk mengembangkan potensinya sepenuhnya.
3. Jika anak berbakat dibatasi dan dihambat dalam perkembangannya, jika mereka tidak dimungkinkan untuk maju lebih cepat dan memperoleh materi pengajaran yang sesuai dengan kemampuannya, seringkali mereka menjadi bosan, jengkel, acuh tak acuh.
4. Terhadap kekhawatiran bahwa pelayanan pendidikan khusus bagi anak berbakat akan membentuk kelompok elit, perlu dipertanyakan apa yang dimaksud dengan kelompok elite. Apabila dengan elite dimaksud dengan “golongan atas” maka memang ditinjau dari keunggulan bakat dan kemampuannya mereka tergolong elite.
5. Anak dan remaja berbakat merasa bahwa minat dan gagasan sering berbeda dari teman sebaya, hal ini dapat membuat mereka terisolasi, merasa dirinya “lain dari pada yang lain”, sehingga tidak jarang mereka membentuk konsep diri yang negatif
6. Jika kebutuhan anak berbakat dipertimbangkan, dan dirancang program untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka sejak awal, maka mereka menunjukkan peningkatan yang nyata dalam prestasi, sehingga tumbuh rasa kompetensi dan rasa harga diri
7. Mereka yang berbakat jika diberi kesempatan dan pelayanan pendidikan yang sesuai akan dapat memberi sumbangan yang bermakna kepada masyarakat dalam semua bidang usaha manusia. Manusia membutuhkan orang-orang yang berkemampuan luar biasa ini untuk menghadapi tuntutan masa depan secara inovatif.
8. Dari sejarah tokoh-tokoh yang unggul dalam bidang tertentu ternyata memang ada diantara mereka yang semasa kecil atau sewaktu di bangku sekolah tidak dikenal sebagai seorang yang menonjol dalam prestasi sekolah, namun mereka berhasil dalam hidup.
Sumber:
• Buescher, Thomas M. & Higham, Sharon. (1990). Helping Adolescents Adjust to Giftedness. ERIC Digest #E489. ERIC Clearinghouse on Handicapped and Gifted Children. Internet: http://ericec.org/ericec.htm
• Buescher, T. M. (1985). A framework for understanding the social and emotional development of gifted and talented adolescents. ROEPER REVIEW, 8(1), 10-15.
• Utami Munandar. S.C., 1982, Pemanduan Anak Berbakat, Jakarta : Penerbit Rajawali

2. Masalah anak berbakat lebih rawan dari pada anak biasa. Anak-anak dengan bakat luar biasa ternyata besar kemungkinannya untuk gagal maupun sukses pada masa dewasa. Kebanyakan dari mereka tidak sukses pada masa dewasa karena perlakuan yang mereka alami dan dalam beberapa kasus direngut dari masa kanak-kanak. Dalam beberapa kejadian, orang tua menekan anaknya begitu keras atau malah dipisahkan dari kelompok sebayanya, sehingga akhirnya hanya mempunyai sedikit teman .karna anak berbakat lebih rawan dari pada anak biasa, anak berbakat harus lbi di berikan perhatian khusus.
a). lima isu khusus dalam konseling anak berbakat:
Berdasarkan karakteristik ABA ada sejumlah isu pokok yang terkait dengan kehidupan anak berbakat. Whitesell (1990), menegaskan bahwa ada 5 isu utama dalam layanan konseling bagi anak berbakat:
1. Pemikir yang divergen: Anak berbakat cenderung jujur tentang kompleksitas isu, menekankan pada keinginan yang kuat untuk memahami, memperoleh bantuan membangun perasaan diri yang lebih kuat, memperoleh bantuan untuk belajar mendengar terhadap suatu keadaan yang terfokus, dan membutuhkan dorongan untuk membuat hubungan yang positif.
2. Excitability: Anak berbakat akademik membutuhkan kemampuan selfregulation dan self control, memelihara tingkat dorongan berbuat yang nyaman, menemukan kepuasan terhadap upaya-upaya yang kreatif dan yang bernuansa intelektual.
3. Sensitivity: Anak berbakat akademik memiliki kebutuhan untuk tahu, berkenaan dengan: orang yang tidak bertanggung jawab akan sesuatu, mengapa seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya, saat ketika pemberiannya tidak dapat diterima, bagaimana menerima suatu hadiah dari orang lain, menentukan hambatan akan perasaan, dan bagaimana menentukan jarak dirinya dengan orang lain secara fisik atau mental.
4. Perseptiveness: Anak berbakat akademik belajar kapan/bagaimana mempercayai persepsinya sendiri, bagaimana menjadi dapat dipercaya, belajar menghadapi perbedaan pendapat, belajar menghargai perasaan orang lain, dan mencoba untuk menjadi pengamat orang lain atau bermain peran.
5. Entelechy: Anak berbakat akademik secara positif menunjukkan komitmen secara intens kepada orang-orang lain dan ide-ideanya, simpatik, empatik, dan terlibat dalam penyebab-penyebab yang bersifat lokal atau global. Sebaliknya yang bersifat negatif, Anak Berbakat Akademik cenderung menunjukkan gangguan personal dan frustasi, terlalu banyak menghadapi tanggung jawab, dan merasa bertanggung jawab terhadap sesuatu, dan rasa dosa.
Selain daripada itu Colangelo (dalam Calangelo and Davis, 1991), juga mengemukakan sejumlah isu penting dalam konseling, yaitu self-concept, counseling with parents, and underachievement.
1. self-concept merupakan salah satu area yang berarti dalam riset konseling bagi anak berbakat. Self-concept dipandang sebagai suatu struktur kognitif yang kuat yang mampu memediasi interpretasi dan respon terhadap kejadian dan perilaku yang diarahkan kepada indvidu. Dengan kata lain bahwa self concept mencakup persepsi diri dan evaluasi diri. Bagi ABA, yang penting adalah academic and social self-concept.
2. counseling with parents sangat diperlukan karena tidak semua orangtua memiliki informasi yang cukup tentang perkembangan kebutuhan pengembangan ABA. Untuk membantu ABA berkembang optimal, sangatlah diperlukan dukungan dari orangtua, baik berkenanaan dengan pemenuhan keubutuhan emosional, stimulasi intelektual, maupun pengalaman edukasional.
3. underachievement merupakan salah satu isu konseling yang sangat penting mendapat perhatian, karena mengabaikan anak underachievement berdampak kurang positif dan merugikan sekali terhadap ABA. Untuk mengahadapi ABA yang underachievement sangat diperlukan pendekatan terhadap guru dan orangtua.


b). Kriteria dan kualifikasi guru anak berbakat
sikap demokratis, ramah dan memberi perhatian per orang, sabar, minat luas, penampilan yang menyenangkan, adil, tak memihak, rasa humor, perilaku konsisiten, memberi perhatian terhadap masalah anak kelenturan (fleksibilitas), menggunakan penghargaan dan ujian, dan kemahiran yang luar biasa dalam mengajar subjek tertentu.
Plowman (dalam Sisk, 1987) membeedakan 9 kelompok karakteristik profesional guru anak berbakat, yaitu:

1. assessment anak berbakat,
2. mengetahui tantang sifat dan kebutuhan anak berbakat,
3. menggunakan data assessment dalam merencanakan program individual untuk anak-anak berbakat,
4. mengetahui tentang model kurikulum yang penting untuk pendidikan anak berbakat,
5. mampu dalm menggunakan dinamika kelompok,
6. mengetahui tenyang berbagai program untuk anak berbakat, minat, dan komitmen terhadap pembelajaran anak berbakat,
7. mengetahui tantang aturan dan hukum sehubungan dengan pendidikan anak berbakat,
8. mengetahui dan mampu untuk membimbing anak dan orang tua mereka, serta
9. mengetahui tentang kecenderungan dan isu dewasa ini dalam pendidikan anak berbakat.
Karakteristik guru anak berbakat juga meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat luas, dan kelenturan (fleksibilitas). Lindsey (dalam Sisk, 1987) menyimpulkan karakteristik dari guru yang berhasil bekerja dengan anak berbakat, mencakup memahami dan menerima diri sendiri,mempunyai ego, kepekaan terhadap orang lain, minat intelektual di atas rata-rata, serta bertanggung jawab atas perilaku diri sendiri dan akibatnya.Karakteristik lainnya dari guru anak berbakat ialah empati, tenggang rasa orsinilitas, antisiasme, dan aktualisasi diri.
sumber:
• Whitesell, Kristi (1990), Counseling the Gifted, whitekh@mail. perrymont.lynchburg.org
• Colangelo, N (1991), Counseling Gifted Student in Colangelo, N. and Davis, G.A, Handbook of Gifted Education, Boston: Allyn an Bacon.
• Sisk, D. 1987. Creative Teaching Of The Gifted. New York : McGrawn Hill.
• Munandar, Utami. 1999. Pengembangan Kreatifitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta
3. Upaya yang dapat di lakukan guru mata pelajaran dan guru pembimbing untuk menciptakan suasana / kondisi lingkungan yang menumbuh kembangkan kreatifitas anak berbakat?
Upaya yang dapat dilakukan guru mata pelajaran dan guru pembimbing untuk menciptakan suasana atau kondisi lingkungan yang menumbuhkembangkan kreativiras anak adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pelayanan khusus kepada anak-anak yang mempunyai kreativitas dan keberbakatan yang tinggi, hal ini memang telah di amanatkan pemerintah dalam undang-undang no 20 tentang system pendidikan nasional tahun 2003 yang berbunyi “ warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau social berhak memperoleh pendidikan khusus”. Pengertian pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yand diselenggarakan secara inklusif, atau berupa satuan-satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan suatu usaha rasional dalam mengatur persoalan – persoalan yang timbul dari peserta didik karena itu adanya manajemen peserta didik hal yang sangat penting diperhatikan.Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju.
2. Modifikasi kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh peserta didik disekolah, dirumah, dan di dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya. Maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap peserta didik yang mempunyai bakat yang tinggi.
3. Guru dapat menyiapkan materi yang lebih kompleks.
4. Menyiapkan bahan ajar yang berbeda.
5. Mencari penempatan alternative bagi siswa sehingga peserta didik dapat belajar menurut kecepatannya.
Sumber :
• Conny Semiawan, Pengembangan Pogram Anak Berbakat, tidak diterbitkan
• BPPN, Perhatian Khusus Terhadap Peserta Didik Berbakat, Depdiknas, Position Paper, 1992
• Undang-undang system pendidikan nasional tahun.2003. Jakarta: depdikbut.
4. Tiga model pedidikan anak berbakat di Negara lain dan kemungkinan pelaksanaannya di Indonesia
Di Amerika Serikat, layanan pendidikan khusus bagi anak-anak berbakat diberikan melalui "gifted education program". Prosedur untuk memasukkan anak ke program pendidikan anak berbakat ini pada umumnya mengikuti empat langkah dasar:
(1) rujukan (referral),
(2)asesmen,
(3) seleksi, dan
(4) penempatan.
Rujukan didasarkan atas pertimbangan guru, nominasi orang tua, nilai raport, skor tes kelompok, atau gabungan hal-hal tersebut. Asesmen mencakup penetapan tingkat kemampuan anak yang dirujuk berdasarkan serangkaian tes, yang pada umumnya mencakup pengukuran inteligensi, tes prestasi, atau tes pemecahan masalah. Seleksi dilakukan hanya setelah anak diasesmen dan dinyatakan berpotensi memiliki keberbakatan dan tingkat kemampuannya sudah ditetapkan. Keputusan penempatan didasarkan atas informasi tersebut, kebutuhan anak, serta pilihan program yang tersedia. (Florey & Tafoya, 1988). Program khusus untuk pendidikan anak berbakat ini dibuat karena anak-anak berbakat mempunyai kebutuhan pendidikan khusus. Anak-anak ini telah menguasai banyak konsep ketika mereka ditempatkan di satu kelas tertentu, sehingga sebagian besar waktu sekolah mereka akan terbuang percuma. Mereka mempunyai kebutuhan yang sama dengan siswa-siswa lainnya, yaitu kesempatan yang konsisten untuk belajar bahan baru dan untuk mengembangkan perilaku yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan dan perjuangan dalam belajar sesuatu yang baru. Akan sangat sulit bagi anak-anak berbakat ini memenuhi kebutuhan tersebut bila mereka ditempatkan dalam kelas yang heterogen. (Winebrenner & Devlin, 1996). Terdapat tiga model layanan pendidikan bagi anak-anak berbakat, yaitu (1) model inklusi (inclusion model), dan (2) cluster grouping model (model pengelompokan terbatas).
1. Model Inklusi
Dalam model layanan ini, anak-anak berbakat ditempatkan sekelas (inklusif) dengan anak-anak lain, termasuk anak-anak penyandang kebutuhan pendidikan khusus lainnya seperti anak berkesulitan belajar (learning disabled) dan anak cacat. Guru yang telah memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keberbakatan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak berbakat ini agar kebutuhan pendidikan khususnya terpenuhi. Layanan khusus itu terutama berupa pemberian materi pengayaan. Dalam model ini, anak berbakat sering difungsikan sebagai tutor bagi anak-anak lain. (Winebrenner & Devlin, 1996).
2. Tracking System
Dalam tracking system, siswa-siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya, dan setiap klasifikasi ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Jadi, anak-anak berbakat akan berada dalam kelas khusus siswa berbakat sepanjang masa sekolahnya. (Winebrenner & Devlin, 1996).

3. Model Cluster Grouping
Dalam model ini, anak-anak berbakat dari semua tingkatan kelas yang sama di satu sekolah (biasanya mereka yang termasuk 5% dari siswa berprestasi tertinggi dalam populasi tingkatan kelasnya), dikelompokkan dalam satu kelas. Kelompok tersebut terdiri dari 5 sampai 8 siswa berbakat, dibimbing oleh seorang guru yang telah memperoleh pelatihan dalam mengajar anak-anak berkemampuan luar biasa. Jika terdapat lebih dari 8 anak berbakat, maka mereka dikelompokkan ke dalam dua atau tiga cluster group. Pada umumnya, satu cluster group itu belajar bersama-sama dengan anak-anak lain dari berbagai tingkat kemampuan, tetapi dalam bidang keluarbiasaannya (misalnya matematika), mereka belajar secara terpisah. (Winebrenner & Devlin, 1996). Model cluster grouping ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan apabila anak-anak berbakat itu didistribusikan secara merata di semua kelas. Pertama, anak berbakat itu memperoleh perhatian khusus untuk pengembangan bidang-bidang kemampuan luar biasanya, dan sekaligus juga tetap memperoleh keuntungan dari belajar bersama dengan anak-anak dari berbagai tingkatan kemampuan lainnya. (Hoover, Sayler, & Feldhusen, 1993; Kulik & Kulik, 1990; Rogers, 1993). Kedua, Pengaturan waktu untuk mempersiapkan bahan-bahan khusus untuk anak berbakat akan lebih efisien bila anak-anak itu berada dalam satu kelompok. Ketiga, Siswa-siswa berbakat akan dapat lebih memahami dan menerima kenyataan bahwa mereka mempunyai "kelainan" dalam belajarnya jika di dalam kelasnya ada anak lain yang seperti mereka. (Winebrenner & Devlin, 1996).
Ketiga model pendidikan anak berbakat tersebut berkemungkinan untuk bisa di laksanakan di Indonesia. Alangkah baiknya model tersebut di fokuskan satu persatu sehingga kita bisa melihat persentase keberhasilan model pendidikan tersebut sehingga hasilnya dapat diketahui maksimal atau tidaknya. Apabila model yang satu tidak maksimal, maka kita bisa mencoba model lainnya.
Sumber:
• Hoover, S., Sayler, M., & Feldhusen, J. (1993). Cluster Grouping of Gifted Students at the Elementary Level. Roeper Review, 16(1), 13-15.
• Winebrenner, Susan & Devlin, Barbara. (1996). Cluster Grouping of Gifted Students: How to Provide Full-time Services on a Part-time Budget. ERIC EC Digest #E538. ERIC Digest. Internet: http://ericec.org/ericec.htm
• Rogers, K. (1993). Grouping the Gifted and Talented. Roeper Review,
16(1), 8-12

5. prosedur dan perbedaan pengembangan bakat dan kreatifitas pada tahap:
• orientasi dengan memasuki belajar kreatif
• pelaksanaan belajar kreatif dengan tahap memecahkan masalah
• pendidikan dini dengan tahap pendidikan lanjutan


















6.